Panggil Aku Ayah

KURUN waktu yang sedemikian panjang bersama status bukan ayah membuat aku tak mudah percaya pada kenyataan besar yang telah berlaku atas diriku sendiri. Tangis bayi merah yang melengking tepat pukul 08.30 Senin lalu, tak serta merta meyakinkan diriku telah berubah status menjadi ayah. Aku memang belum sepenuhnya meyakini itu sebagai sebuah kepastian. Segalanya seolah berlaku sebatas angan, atau mimpi di tengah malam.

‘’Pak, sebaiknya perlengkapan bayinya dibawa ke mari saja,” ujar bidan yang baru saja keluar dari ruang tempat pemeriksaan istriku. ‘’Lho, apakah istri saya akan segera melahirkan, Bu Bidan?” tanyaku terkejut.

Selepas Subuh istriku mengeluhkan nyeri di perut bagian bawah. Aku lantas membawanya ke bidan untuk periksa. Sama sekali aku tak punya firasat nyeri itu pertanda waktu persalinan akan tiba. Meski usia kandungannya menjelang sembilan bulan, tetapi menurut perkiraan bidan pekan lalu, kelahiran bayi pertamaku berkemungkinan pada akhir bulan. Sementara sekarang baru pertengahan bulan.

‘’Sepertinya begitu. Sekarang sudah bukaan dua,” jelas bidan tersebut.

Aku sempat mengkerutkan kening mendengar kata “bukaan”, untung aku ingat penjelasan istri seorang teman bahwa sebelum proses persalinan akan dilalui dengan perkembangan kondisi rahim yang lazim disebut bukaan.

‘’Apakah kelahirannya normal, Bu?” Mendadak saja kecemasan sudah mengeram dalam pikiranku. Bayangan atas kemalangan yang menimpa istri temanku berapa lalu melindas rasa tentram hatiku. Sungguh selama sembilan bulan masa kehamilan istriku banyak ketakutan yang menghinggapi diriku. Terlebih lagi kehamilan istriku kali ini merupakan kesempatan ketiga, setelah dua kali kehamilan yang lalu tak berkembang sebagaimana mestinya. Istriku mengalami keguguran pada bulan kedua saat hamil pertama dan harus menjalani operasi pembersihan rahim akibat keguguran di usia kandungan lewat tiga bulan pada kehamilan kedua.

‘’ Normal ,” jawaban bidan tersebut seolah hujan rintik di tengah musim kemarau panjang yang melanda perasaanku.

Seketika itu juga aku pamit dan bergegas pulang untuk mengambil segala perlengkapan bayi yang memang telah kami persiapkan jauh-jauh hari. Sepanjang perjalanan pulang-pergi dari rumah bersalin ke rumah, aku merasa sedang lalu-lalang dalam mimpi. Tak percaya bahwa sebentar lagi aku akan menjadi ayah. Pukul tujuh lewat belasan menit derita istriku kian menjadi. Seringai di wajahnya kulihat bagai lautan rasa sakit yang tak mudah mengarunginya. Aku yakin dia pasti menderita. Dalam keadaan seperti ini aku hanya bisa memberinya dorongan semangat dengan menggenggam erat telapak tangannya. Mendekati pertengah pukul tujuh detik-detik paling menegangkan di sepanjang usiaku dimulai. Bidan memasuki ruang bersalin dan memerintahkan istriku bersiap memasuki tahapan terpenting dalam hidupnya: mengalami proses melahirkan, sebagai penyempurna diri sebagai wanita. Tak bisa aku menceritakan betapa menegangkan ruang berukuran empat kali empat meter itu selama kurang lebih limabelas menit di pagi Senin itu. Yang pasti aku menyaksikan derita tak terkira yang wajib dialami setiap wanita untuk bisa dipanggil ibu. Seluruh ketegangan itu berakhir kelegaan menentramkan ketika lengking tangis bayi merah menyeruak keheningan.

‘’Selamat, bayi Bapak laki-laki dan terlahir sehat lagi normal,” ucap bidan itu sambil tersenyum ke arahku.

Aku malah terpaku. Tak ada senyum, bahkan sekedar anggukan membalas ucapan selamat itu. Sepasang mataku tak berkedip memandang bayi merah yang tengah dimandikan bidan. Benarkah itu bayi yang baru terlahir dari rahim istriku? Benarkah itu bayi yang dalam tubuhnya mengalir darah dan dagingku? Ah, sungguhkan aku telah memasuki fase luar biasa dalam kehidupan seorang lelaki, yakni menjadi seorang ayah?

‘’Bapak tentu sudah tak tahan ingin segera menimang buah hati, ini bayinya. Silahkam, Pak,” tak sampai sepuluh menit kemudian bidan itu muncul seraya menyerahkan bayi mungil berbungkus baju dan kain bedung biru motif bunga-bunga kecil.

Aku terpana. Inilah moment paling besar dalam hidupku: menimang darah-dagingku sendiri! Tanpa berkedip aku memperhatikan wajah mungil dalam dekapan. Wajah itu begitu teduh. Sepasang matanya masih terkatup rapat. Hidungnya yang kecil mencuat di atas bibirnya yang juga terkatup rapat-rapat. Lantas aku ingat kuwajiban setiap ayah pada bayinya yang baru lahir. Maka, dengan suara tergetar kukumandangkan azan di telinga kanannya dan iqomah di telinga kiri. Aku berharap kalimat agung yang pertama kali didengarnya menjadi pedoman mula baginya untuk menentukan langkah ke depan. Usai mengumandangkan azan dan iqomah di kedua telinganya, aku lantas mencium kening bayiku dengan sepenuh hati. Jangan ditanya bagaimana perasaanku ketika itu. Setiap ayah pasti pernah mengalami masa teramat istemewa seperti itu. Sepanjang siang itu aku seolah tak mau menjauh dari bayi mungilku. Jika tidak sedang kugendong, tentu perhatianku tak luput dari bayiku. Setiap gerak dan tarikan nafasnya menjadi sedemikian istimewa di mataku. Aku seolah baru pertama kali melihat bayi.

Menjelang petang aku memutuskan untuk meninggalkan rumah bersalin dan pulang. Kondisi bayi dan istriku yang berangsur sehat tidak memerlukan perawatan khusus. Menurut bidan yang menanganinya, asal tidak banyak bergerak dan terus beristirahat istri dan bayiku diperbolehkan pulang. Kami tiba di rumah saat mahatari senja tersenyum ceria. Aku bersyukur melihat sekalian alam turut bersuka cita atas kelahiran bayi kami yang pertama. Pengalaman yang serba pertama membuat aku dan istriku sering kebingungan memahami keinginan si kecil ketika menangis. Untunglah ibu mertuaku dengan sabar turut campur tangan menanggulangi kegaduhan menyenangkan di rumah kecil kami.

Malam pertama dengan penghuni baru di rumah kami menjadi hal yang tak mudah dilupakan. Aku akan mencatatnya sebagai bagian terpenting dalam sejarah hidupku. Pada malam itu pulalah aku mengalami sendiri apa yang selama ini dikatakan banyak orang tua, bahwa demi anaknya orang tua rela melakukan apa saja. Sepanjang malam bayi mungilku tak kunjung memejamkan mata. Sepasang mata kecilnya terus terbuka dan menatapi kamar tempatnya berbaring. Aku dengan ringan hati menjaganya. Mengawasinya dan menenangkannya jika tangisnya mulai terdengar. Istriku yang masih lemah dan sangat membutuhkan istirahat sejak semula kuminta untuk menyerahkan segala keperluan bayi kami kepadaku. Canggung tentu saja kualami. Maklum segalanya serba debutan. Aku baru pertama kali menjadi ayah. Bingung juga ketika harus mengganti popok dan membuatkan susu. Tetapi, seperti yang telah kukatakan di atas, ini pengalaman yang paling penting dalam sejarah hidupku. Keletihan dan kerepotan yang kualami, jauh lebih kecil dibandingkan kebahagiaan yang bermuara dalam hatiku.

Aku yang selama ini paling tak suka tidur terlambat, kini dengan senang hati harus kehilangan banyak waktu tidur malam demi si mungilku tercinta. Jika hari-hari yang lalu aku baru pulang dari kantor menjelang Maghrib, kini aku lebih suka pulang lebih cepat. Chating dan segala sesuatu yang ada kaitannya dengan internet yang biasa selalu menggodaku, mendadak kehilangan pesona. Setiap kali ada waktu luang, aku akan segera melesat pulang. Bagiku berada di samping si mungil dan memandanginya tanpa berkedip adalah kenikmatan yang tiada tara. Bahkan saat mengaji rutin pun aku lakukan di samping si mungil. Ayat demi ayat dari kalam Ilahi aku senandungkan di depannya. Meskipun matanya terpejam, tapi aku yakin apa yang kuperdengarkan kepadanya tak sekadar berlalu tanpa kesan. Pun saat si mungil terbangun di tengah malam dan aku harus sholat tahajud. Di dalam pelukanku bayiku begitu tentram mengikuti setiap gerak yang kulakukan dalam munajad pada sang Pemurah lagi Penyayang di sepertiga malam yang hening.

Memilihkan nama adalah kehebohan di antara aku dan istriku yang tak kunjung tuntas. Meski telah melewati banyak sidang pleno, tetap saja tak kunjung tersepakati satu nama bagi si mungil. Padahal waktu pemberian nama semakin dekat. Sebagaimana yang disunnahkan Rasul mulia, memberikan nama sangat bagus dilakukan tujuh hari setelah kelahiran seorang bayi. Pada saat itulah aku berencana mengundang saudara, handai-taulan dan sekalian karib kerabat untuk menjadi saksi pemberian nama atas bayi pertamaku. Ada banyak usulan nama yang bermunculan. Tak hanya datang dari aku dan istriku, tapi banyak juga saudara dan kenalan yang berbaik hati memberikan usulan nama terbaik untuk bayiku. Tetapi semakin banyak usulan nama, maka semakin alot ‘sidang paripurna’ berlangsung. Satu nama yang paling cocok dan disepakati tak kunjung didapatkan. Meski hingga cerita ini kutuliskan nama terbaik bagi bayiku belum juga didapat, tetapi aku yakin setelah tujuh hari dari kelahirannya, yaitu saat dilangsungkannya pemotongan dua ekor kambing sebagai tebusan atas gadai dirinya dalam bentuk aiqah, nama itu insyaallah akan kupersembahkan kepada bayi mungilku.

Kini anugrah teragung itu telah Allah karuniakan kepadaku. Aku terharu dan tak sanggup menuntaskan segala perasaanku dalam bentuk cerita. Tetapi aku sadar, sesadar-sadarnya bahwa di balik anugrah teragung ini, terselip tanggung jawab teramat besar yang kini tersandang di pundakku. Aku sadar kini tanggung jawabku bertambah satu jiwa. Tanggung jawab nafkah, insyaallah Allah akan cukupkan, tetapi tanggung jawab akhirat…. Sungguh inilah yang paling aku takutkan. Anugrah teragung itu telah aku terima. Aku syukuri sebagai sebuah karunia. Mustahil anugrahnya aku terima, namun tanggung jawabnya kuabaikan. Kini aku tak sekadar punya tanggung jawab melindungi diri dan istriku dari api neraka, tetapi ada satu jiwa lagi yang menjadi tugasku melindungi dirinya dari api neraka. Ya Allah Engkaulah muara pengharapan atas pertolongan bagi hamba.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s